Blog-nya Cita

Untaian kata menuju cita

Repotnya tanpa “mbak” di rumah

Mudah2an bukan termasuk keluh kesah sekedar share betapa repotnya melakukan pekerjaan domestik (rumah) tanpa kehadiran pembantu bagi wanita bekerja. Kadang2 kita akan menghargai sesuatu bila sesuatu itu telah hilang, pun demikian saya. Betapa lumayan besar jasa pembantu kita ternyata……so yg punya pembantu “awet” hargailah dia sebak-baiknya.

Aneh juga sih para mbak yang dulu kerja di rumah (soalnya dari awal nikah, beberapa kali ganti), mereka tidak kerasan kerja di rumah saya tuh karena “sepi”, “kurang kerjaan” so jadinya bengong and jadi kepikiran orang kampung (hah, ini ni yg dari kepala ku ga bisa ngerti, bukannya enak? ga ada yg ngawasin? bisa main/nonton tv/tiduran?)…..

Sepi disini karena semua penghuni rumah (saya, suami, anak) sudah akan pergi dari jam 7 pagi, biasanya ini waktu repot kita (saya& suami)dari mulai menyiapkan sarapan suami, anak, bekel sekolah anak karena sekolahnya full day, persiapan baju ganti anak karena seharian akan ada di luar (pulang sekolah jam 4 sore&dititipin di rumah neneknya ntar saya pulang kerja jam 7-an malam dijemput ). Yang paling repot adalah ritual bangunin anak dari jam 5 pagi, biasanya pekerjaan ini yg expert melakukannya adalah ayahnya, everyday musti bersiasat bagaimana supaya anakku mau cepat2 bangun dan mandi dgn senang hati tanpa menangis. Biasanya ayahnya akan bercerita panjang lebar atau mandi sambil pretendplay mandiin boneka dan anakku merasa ada teman mandi dan dia jadi happy, selsei? ngayal! masih harus ada cerita lagi supaya anakku itu mau sikat gigi dgn “ridho” nah kalo udah beres acara sikat gigi, baru akan terasa lebih ringan pekerjaannya yg tinggal pake baju.gampang?? hehe belumlah. mesti teuteup dibujuk supaya anakku mau rambutnya disisir. Repot ya, tapi gpp lah dalam upaya belajar menghargai anak (no paksa) supaya lama-kelamaan anakku mau melakukan itu dengan penuh kesadaran (lha iya lah anakku wkt januari lalu baru genap 3 tahun, jd sekarang ini hampir 3,5 tahn). Kasihan juga sih mesti sekolah playgroup dgn sistem fullday… tapi lebih kasihan lagi kalo di rumah hanya main2 dan di asuh pembantu (kalo pembantu ada). Nah emaknya mana (maksudnya saya..) saya kan kerja. koq tega???? (ntar aja kali dibahasnya byk faktor yg melatarbelakangi hal ini)…..Ups lupa, kalo ayahnya yg mandiin, dimanakah saya? ya buat sarapan utk semua sekaligus menu makan siang anakku utk di sekolah.

Nah apakah setelah itu udah bisa sarapan di rumah? hehe kita semua sarapannya lebih sering di mobil, so mobil jadi rumah ke dua kita (Dari mulai piring sampe bantal ada di sini). Biasanya pas jam 7 kita mesri udh berangkat dan semua keperluan diangkut ke mobil termasuk sarapan kita). eit…kesannya  kerjaannya cuma mandiin anak dan bikin sarapan ya??nah kalo sesimple itu mungkin mudah, mesti beres cuci piring yg semalam, nyuci baju plus ngejemur, beres2 rumah, belanja sayuran utk besok, kalo ada baju yg blum di setrika ya mesti saat itu disetrika juga. Pokoknya waktu ter-aman supaya jam 7 ready pergi itu,minimal jam 4 pagi mesti udh bangun. Sekolah anak saya mulainya jam 9 tapi dia mesti ke pool jemputan di daerah lodaya jam 8 teng udh disana (rumah saya daerah cimahi-an, sekolah anak saya di ujung berung), bayangkan juga bandung yg tiap pagi super macet.

Nah, curhatan saya adalah kalo ada pembantu, pekerjaan masak, nyuci dan beres2 plus ngangkut barang bawaan dan preparation nya bisa di delegasikan ke pembantu, kecuali pekerjaan mandiin anak. Yg bikin cape juga karena kita akan sampe di rumag paling pagi jam 8 malam (saya pulang kerja jam 6.30 malam) biasanya langsung ke ITB (kantor suami) nah dari sana jemput anak di mertua. Begitulah aktivitas “ritual” dari senin-jumat. Untungnya meski ga ada mbak. suami saya masih mau ikutan bantu2 so jadi teamwork yg solid deh tiap pagi : )

 

June 3, 2008 Posted by citamelani | dunia wanita | | No Comments Yet

Karena Saya Wanita

Karena saya dilahirkan sebagai wanita, sudah sewajarnya saya membela kaum saya…….

Karena saya wanita, sudah sewajarnya saya menyadari hak-hak dan kewajiban saya sebagai wanita….

Karena saya wanita, saya harus peka terhadap masalah-masalah kewanitaan…..

Aaah wanita, adalah makhluk yang diciptakan Allah sama derajatnya dengan laki-laki, perbedaan peran dan fungsi yang menjadikannya tampak beda. Tiap wanita yang ditakdirkan hidup (menikah)dengan laki-laki akan memiliki cerita yang (pasti) beda atau bahkan ada kemiripan.

Menjadi wanita dan menjadi isteri dari seorang laki-laki, menurut pengalaman saya ternyata berbeda. Menjadi wanita dalam kodratnya sebagai salah satu makhluk Allah S.W.T memiliki orientasi “menjadi pribadi”, tetapi menjadi isteri dengan peran dan fungsinya  sebagai  partner dari seorang laki-laki lebih orientasi ” kebersamaan, kesinambungan, dan pribadi menjadi tidak pribadi lagi” (bingung kan :) ????). Sungguh tidak heran bila ada seorang wanita yang rela “tetap” bertahan menjadi seorang isteri dari seorang laki-laki dalam keadaan “teraniaya”, apakah dia tidak berontak??? (pasti ingin!!!) tapi keadaan karena “kebersamaan” (mungkin) yg membuat dia bisa bertahan. Tapi…. sungguh saya ingin bilang, ” hargailah dirimu sendiri wahai wanita, nyatakan keinginanmu, sayangi dirimu….” setelah anda semua mampu melakukan itu, meski anda “teraniaya” anda masih bisa “tersenyum” meskipun hanya bisa dalam hati.

wallahu’alam

May 31, 2008 Posted by citamelani | dunia wanita | | No Comments Yet